• HOME
Tampilkan postingan dengan label profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label profil. Tampilkan semua postingan

Inilah daftar Perusahaan Robert Budi Hartono Dari Rokok sampai Kaskus



Menjadi orang terkaya nomor satu di Indonesia selama beberapa tahun berturut-turut itulah R. Budi Hartono yang merupakan pemilik Grup Djarum, dilahirkan dengan nama lengkap Robert Budi Hartono pada tanggal 28 April 1941 di Kota Semarang, Ayahnya bernama Oei Wie Gwan pemilik usaha kecil Djarum Gramophon namanya diubah menjadi Djarum yang kelak menjadi sebuah perusahaan rokok terbesar di dunia. Robert Budi Hartono yang memiliki nama Tionghoa Oei Hwie
Tjhong oleh Majalah Forbes dicaatat memiliki kekayaan sebesar 8,5 Milyar Dollar atau 82.50 Trilyun Rupiah dan merupakan Orang terkaya nomor satu selama beberapa tahun di Indonesia dan urutan 131 terkaya didunia. Semua berawal dari Mr. Oei Wie Gwan yang membeli usaha kecil dalam bidang kretek bernama Djarum Gramophon pada tahun 1951 dann kemudian mengubah namanya menjadi Djarum. Oei mulai memasarkan kretek dengan merek “Djarum” yang ternyata sukses di pasaran.

Setelah kebakaran hampir memusnahkan perusahaan pada tahun 1963, Djarum kembali bangkit dan memodernisasikan peralatan di pabriknya. Robert dan kakaknya yaitu Michael Budi Hartono menerima warisan ini setelah ayahnya meninggal. Pada saat itu pabrik perusahaan Djarum baru saja terbakar dan mengalami kondisi yang tidak stabil. Namun kemudian di tangan dua bersaudara Hartono, Perusahaan Djarum bisa bertumbuh menjadi perusahaan raksasa. Pada tahun 1972 Djarum mulai mengeskpor produk rokoknya ke luar negeri. Tiga tahun kemudian Djarum memasarkan Djarum Filter, merek pertamanya yang diproduksi menggunakan mesin, diikuti merek Djarum Super yang diperkenalkan pada tahun 1981. Saat ini, Di Amerika Serikat pun perusahaan rokok ini memilki pangsa pasar yang besar. Dan di negeri asalnya sendiri, Indonesia, produksi Djarum mencapai 48 milyar batang pertahun atau 20% dari total produksi nasional. Seiring dengan pertumbuhannya, perusahaan rokok ini menjelma dari perusahaan rokok menjadi Group Bisnis yang berinvestasi di berbagai sektor. Djarum mereka, dilarang di Amerika Serikat sejak 2009 bersama dengan rokok kretek lainnya, karena telah diluncurkannya Dos Hermanos, sebuah cerutu premium pencampuran tembakau Brasil dan Indonesia.





Robert Budi Hartono dengan Group Djarum yang dipimpinnya pun melebarkan sayap ke banyak sektor antara lain perbankan, properti, agrobisnis, elektronik dan multimedia. Diversifikasi bisnis dan investasi yang dilakukan Group Djarum ini memperkokoh Imperium Bisnisnya yang berawal di tahun 1951. Di bidang Agribisnis, Robert bersama Michael memiliki perkebunan sawit seluas 65.000 hektar yang terletak di provinsi Kalimantan Barat dari tahun 2008. Mereka bergerak di bawah payung Hartono Plantations Indonesia, salah satu bagian dari Group Djarum. Di bidang properti, banyak proyek yang dijalankan di bawah kendali CEO Djarum ini, R. Budi Hartono, dan yang paling besar adalah mega proyek Grand Indonesia yang ditantangani pada tahun 2004 dan selesai pada tahun 2008. Proyek ini mencakup hotel (renovasi dari Hotel Indonesia), pusat belanja, gedung perkantoran 57 lantai dan apartemen. Total nilai investasinya 1,3 Triliun rupiah.





Majalah Globe Asia menyatakan Robert sebagai orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan 4,2 miliar dolar AS atau sekitar 37,8 triliun rupiah. Pada tahun yang sama, R. Budi Hartono bersama kakaknya, Michael Hartono di bawah bendera Group Djarum melebarkan investasi ke
sektot perbankan. Dan mereka menjadi pemegang saham utama, menguasai 51% saham, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia saat ini. Berdasarkan data dari Bank Indonesia akhir tahun 2011 nilai aset BCA sebesar Rp 380,927 Triliun (tiga ratus delapan puluh koma sembilan ratus dua puluh tujuh rupiah). BCA yang secara resmi berdiri pada tanggal 21 Februari 1957 dengan nama Bank Central Asia NV. Banyak hal telah dilalui sejak saat berdirinya itu, dan barangkali yang paling signifikan adalah krisis moneter yang terjadi di tahun 1997. Dan bukti eksistensi grup Djarum adalah gedung pencakar langit di kompleks mega proyek Grand Indonesia diberi nama Menara BCA. Karena bank BCA menjadi penyewa utamanya dari tahun 2007 hingga 2035. Dengan demikian tergabunglah lingkungan operasional dua raksasa bisnis Indonesia di tengah-tengah pusat ibukota yang menjadi bukti keberkuasaan Djarum di kancah bisnis Indonesia.

Robert Budi Hartono menikah seorang wanita bernama Widowati Hartono atau lebih akrab dengan nama Giok Hartono. Bersamanya Widowati Hartono, Pemilik PT Djarum ini memiliki tiga orang putra yang kesemuanya telah menyelesaikan pendidikan. Mereka adalah Victor Hartono, Martin Hartono, dan Armand Hartono. Disisi lain, Robert Budi Hartono Sangat menyukai olahraga bulutangkis yang bermula dari sekedar hobi lalu mendirikan Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum pada tahun 1969. Dari lapangan bulutangkis di tempat melinting kretek, Robert Budi Hartono menemukan talenta anak muda berbakat asli Kudus. Anak muda itu dimatanya, memiliki semangat juang yang tinggi, mental yang hebat dan fisik yang prima. Tak salah intuisinya, karena dalam kurun waktu yang tidak lama, anak itu mengharumkan nama bangsa di pentas dunia. Anak muda itu adalah Liem Swie King, yang terkenal dengan julukan “King Smash”.





Disamping itu bersama kakaknya yaitu Michael Budi Hartono,mereka menjadi pemilik Grand Indonesia dan perusahaan elektronik. Salah satu bisnis Group Djarum di sektor ini bergerak di bawah bendera Polytron yang telah beroperasi lebih dari 30 tahun. Perusahaan Polytron ini kini juga memproduksi ponsel yang sebelumnya hanya meproduksi AC, kulkas, produk video dan audio, dan dispenser. Melalui perusahaan yang baru dibuat yakni Ventures Global Prima Digital, mereka juga membeli Kaskus, yang merupakan salah satu situs terbesar di Indonesia.

Profil Biodata Laily Prihatiningtyas calon Direktur BUMN Pilihan Dahlah Iskan

Menteri BUMN Dahlan Iskan akan menunjuk Laily Prihatiningtyas menjadi Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko. Wanita kelahiran Desember 1985 ini ternyata belum genap berusia 28 tahun. Hebat!

Mendengar berita soal pencalonannya sebagai Direktur Utama BUMN, wanita yang akrab dipanggil Tyas ini tak bisa berkomentar banyak.

"Sampai sekarang sebenarnya belum ada penunjukkan secara resmi, jadi saya belum bisa berkomentar banyak untuk saat ini," ucap Tyas kepadadetikFinance, Kamis (21/11/2013).

Tyas ditunjuk menggantikan posisi Ricky Sihaan. Dahlan sebelumnya beralasan Tyas yang lulusan S2 Belanda ini memiliki kemampuan yang mumpuni untuk menjadi seorang Dirut di BUMN.

"Dia mampu karena pintar sekali, dan ini juga sebagai sinyal kepada generasi muda bahwa BUMN nggak segan-segan mengangkat generasi muda. Karena di swasta itu biasa anak usia 28 tahun menjadi Dirut," sebut Dahlan.

Sementara itu Sekretaris Kementerian BUMN Imam A. Putro menjelaskan, proses penetapan Tyas menjadi bos baru PT TWC Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko akan disiapkan. Termasuk mekanisme fit and proper test, atau uji kelayakan dan kepatutan. "Sedang disiapkan semuanya," kata Imam singkat.

dan berikut biodata singkat laily prihaningtyas


Pekerjaan sekarang :
-Head of Information Presentation Subdivision at Ministry of State Owned Enterprises
-Board of Commissioners Secretary at PT Perusahaan Pengelola Aset (PT PPA) ex BPPN

Pengalaman kerja :  
-Risk Management Committee Member at PT Antam Tbk
-Staff at Ministry of State Owned Enterprises of Republic Indonesia
-Human Resources Division Staff at Ministry of State Owned Enterprises of Indonesia

Pendidikan :  

Tilburg University
MSc, Accounting

2010 – 2011

Graduated with Distinction
Funded by StuNed Scholarship Programme from the Dutch Government

Universitas Indonesia (UI)
Bachelor, Accounting

2007 – 2009

GPA: 3.33/4

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)
D III, Accounting

2003 – 2006

GPA: 3.42/4
Funded by STAN scholarship programme from the Ministry of Finance of Republic Indonesia

Activities and Societies: Data Collector for STAN Year Book 2005 and 2006
Profil Biodata dr Dewa Ayu Sasiary Prawani

Profil Biodata dr Dewa Ayu Sasiary Prawani

berikut ini profil dan biodata Profil Biodata dr Dewa Ayu Sasiary Prawani yang saya kutip langsung dari blog dr ayu. 

Aku dilahirkan dengan nama lengkap Dewa Ayu Sasiary Prawani. Aku lahir di Denpasar, Bali 23 April 1975. Dari SD hingga SMA aku bersekolah di Denpasar, selanjutnya perguruan tinggiku ku selesaikan di Manado, Sulawesi Utara. Aku mengambil jurusan Kedokteran Umum. Sebenarnya nggak kepikiran untuk melanjutkan sekolah ke Manado, karena aku juga nggak punya sanak saudara di sana. Tapi mungkin karena ingin bertualang alias mencari pengalaman baru, aku nekat merantau. Sebenarnya berat sekali berpisah dengan orang tua dan saudara2 ku.
Bulan-bulan pertama, di bulan Agustus 1993, awal-awal masa pendidikan ku di FK UNSRAT Manado aku isi dengan rasa sedih, sepi dan rindu dengan keluargaku. Aku anak ke-5 dari 6 bersaudara, jadi sudah terbiasa dengan suasana yang ramai. Dan saat itu aku belajar melakukan segala sesuatunya sendiri.
Untungnya kesedihan dan kesepian itu tidak berlangsung lama, perlahan-lahan aku bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Aku belajarselain di dalam pendidikan, juga dalam berinteraksi dengan orang-orang sekitarku. Segala sesuatunya memang awalnya terasa berat.. tapi, akhirnya bisa kulewati dengan baik.
Akhirnya aku berhasil menyelesaikan kuliahku dan aku resmi diambil sumpah sebagai dokter umum April 2000.

Profil Biodata Enji Ayu ting ting Alias Henry Baskoro Anak Bambang hendarso Danuri

Siapa sebenarnya orangtua Enji, suami Ayu Ting Ting? Ibunda Ayu Ting Ting, Umi Kalsum, mengaku belum pernah bertemu dengan orangtua Enji, meski putrinya sudah dinikahi pria itu. Benarkah Enji anak mantan Kapolri Bambang Hendarso Danuri?

Selama ini, isu yang beredar Enji yang bernama lengkap Henry Baskoro Hendarso itu merupakan anak petinggi polisi. Namun sepanjang isu itu berkembang, tidak ada yang memastikan siapa ayah Enji sebenarnya.

Sampai akhirnya beredar undangan resepsi pernikahan Ayu Ting Ting dan Enji yang seharusnya dilakukan pada 4 September 2013 lalu. Namun, rencana resepsi itu masih belum terealisasi hingga sekarang.

Di undangan itu yang didapatkan detikHot Selasa (12/11/2013) itu, nama orangtua Enji tertulis jelas: Bambang Hendarso Danuri dan Rita Felicita. Siapa Bambang Hendarso, ayah Enji itu? Benarkah Bambang Hendarso Danuri yang dimaksud merupakan Kapolri yang menjabat pada 2008 hingga 2010?

Tidak ada kejelasan. Yang pasti, saat proses fit and proper test sebagai calon Kapolri pada 19 September 2008 lalu, Komisi III DPR mendapatkan data bahwa Bambang Hendarso Danuri beristrikan Nani Hartiningsih Wargahadibrata, bukan Rita Felicita. Bambang Hendarso-Nani memiliki dua anak. "Mereka keluarga harmonis," kata Trimedya Panjaitan, ketua Komisi III DPR saat itu.

Selama ini Enji tidak mau berterus terang mengenai siapa ayahnya. Saat ditanya wartawan ketika menggelar jumpa pers di kantor pengacara Hotman Paris, Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (8/11/2013) lalu, Enji sempat ditanya siapa orangtuanya. Saat itu, pria berkepala botak itu enggan menjawabnya. Ia pun hanya tersenyum.

Sementara, Umi Kalsum mengungkapkan dirinya atau pun keluarganya tidak penah bertemu dengan ayah dan ibu Enji. "Ibu nggak pernah melihat orangtuanya Enji," ujar Umi Kalsum di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (11/11/2013).

Foto dan Profil Valdya Baraputri Reporter 360 metro TV

Foto dan Profil Valdya Baraputri Reporter 360 metro TV

profil dan biografi adiguna sutowo mertua dian satro

profil dan biografi adiguna sutowo mertua dian satro

siapakah adiguna sutowo yang rumahnya dirusak perwmpuan misterius. Berikut ini biografi dan biodata adiguna sutowo.
Adiguna Sutowo (Mertua Dian Sastro), Penerus Ibnu Sutowo
Kisaran awal 2005 silam, publik Indonesia dikejutkan oleh peristiwa yang cukup menyita perhatian. Menjadi berita besar karena pelakunya diduga anak dari tokoh besar Orde Baru. Hari Minggu (2/1/2005) pukul 15.55 WIB pelaku digelandang masuk tahanan.
Adiguna Sutowo yang diduga sebagai pelaku tunggal penembakan pelayan bar Fluid Club Hotel Hilton, Yohanes Brachmans Haerudy Natong, dimasukan ke ruang tahanan Polda Metro Jaya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Adiguna mengenakan kaos warna abu-abu dan celana training. Mukanya tampak lusuh dan tertunduk lesu. Dia digelandang setelah menjalani pemeriksaan yang dilakukan oleh Satuan Jatantras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya secara maraton. Dia diperiksa sejak Sabtu (1/1/2005) malam. Lihat.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang baru menjabat beberapa bulan merasa prihatin dengan peristiwa pada pergantian tahun itu. Ia menginstruksikan aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus ini secara tegas dan transparan. Hal itu dikatakan SBY kepada wartawan dalam jumpa pers di rumahnya, di Cikeas, Bogor, Minggu (2/1/2005) malam. Tampak hadir Menko Polhukam Widodo AS, Menlu Hassan Wirajuda dan Menkeu Yusuf Anwar. “Pemerintah dalam hal ini Kapolri diminta untuk melaksanakan proses hukum terhadap pelaku penembakan di Hotel Hilton. Lakukan proses hukum yang benar dan tepat, lalu tunjukkan dengan akuntabilitas yang tinggi,” kata SBY. Lihat.
Siapa Adiguna itu?
Dibanding Pontjo Sutowo, kakaknya, nama Adiguna masih kalah pamor. Bahkan selama ini Adiguna lebih dikenal sebagai pereli nasional. Anaknya, (alm) Adri Sutowo pun menitis darah ini. Nama Adiguna memang tak bisa lepas dari Ibnu Sutowo, eks Dirut PT Pertamina dan pensiunan jenderal bintang tiga era Soeharto.
Dari perkawinannya dengan Zaleha binti Syafe’ie, yang dinikahinya pada 12 September 1943, Ibnu mendapatkan 7 anak. Mereka adalah Nuraini Zaitun Kamarukmi Luntungan, Endang Utari Mokodompit, Widarti, Pontjo Nugroho Susilo, Sri Hartati Wahyuningsih, Handara, dan Adiguna.
Seperti saudara-saudaranya yang lain, si bungsu Adiguna pun berkecimpung dalam bisnis. Dia tercatat sebagai bos perusahaan farmasi PT Suntri Sepuri. Perusahaan yang didirikan pada 1998 ini memproduksi tablet, kapsul, sirup dan suspensi, sirup kering/serbuk injeksi beta laktam. Membicarakan bisnis Adiguna, mau tak mau harus membicarakan bisnis keluarga Ibnu Sutowo. Pasalnya, bisnis Adiguna dibangun bersama-sama dengan anggota keluarganya yang lain.
Keluarga Ibnu Sutowo ketika Orba masih berkuasa, mempunyai sedikitnya 20 perusahaan. Ini termasuk PT Adiguna Shipyard (galangan kapal, pengadaan fiberglass kapal) dan PT Adiguna Mesin Tani (agicultural). Keluarga ini juga pemilik PT Indobuild Co (real estate, hotel) yang menguasai hak pengelolaan lahan di seputar Senayan - lokasi hotel, apartemen dan convention center. Keluarga Ibnu Sutowo lebih dikenal lewat konglomerasi Grup Nugra Santana (bursa saham, pemasaran, manajemen properti, investasi bangunan). Jika dikaitkan dengan masa sekarang, ingatan kita akan tertuju pada Bakrie Grup yang menguasai lantai bursa, dan juga Kalla Grup milik mantan wakil presiden. Keduanya sama-sama pentolan partai Golkar.
Di bawah grup inilah keluarga Sutowo menguasai penjualan dan pemasaran operasional 5 hotel kelas atas: Jakarta Hilton International Hotel, Lagoon Tower Jakarta Hilton International, The Hilton Residence, Patra Surabaya Hilton International dan Bali Hilton International.
Ekspansi besar-besaran dimotori Pontjo Sutowo. Tapi pada 1997, kibaran bisnis keluarga Sutowo melorot. Majalah Swa edisi November 2004 lalu menulis, tragedi Bank Pacific yang dimotori Endang Utari Mokodompit -kakak Adiguna- menyusul bank tersebut dilikuidasi Pemerintah, November 1997, diduga menjadi pemicu memudarnya pamor Grup Nugra Santana. Meski demikian, sebagian sahamnya masih bercokol di Hilton, branding yang akan tetap dipakainya selama 20 tahun sesuai kontrak sejak 1996 silam.
Majalah Swa lewat laporannya bertajuk “Menumpuk Utang di Bank, Terbelit Bisnis Sendiri” menulis bahwa bisnis Grup Nusa Santana tak lagi prospektif. Pengamat ekonomi Wilson Nababan menilai, berbagai proyek properti khususnya hotel yang dibangun Grup Nugra Santana menjadi kartu mati yang sulit dikembangkan lagi. Bisnis kelompok ini di bidang perkapalan seperti Adiguna Shipyard juga mengalami penurunan yang sangat tajam.
Untuk kasus seperti ini, kiranya keluarga Sutowo perlu belajar dari Keluarga Bakrie yang tetap eksis meski badai 2008 menerjang kerajaan bisnisnya. Tentu dengan menggandeng penguasa saat itu, Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla, meski sempat ditentang Menkeu Sri Mulyani yang mengancam mundur dari kabinet SBY.
Adiguna juga merajai media. Pada tahun 1992, Adiguna bersama Soetikno Soedardjo dan Onky Soemarno mendirikan Hard Rock Cafe. Joint venture ini membuahkan group usaha yang dikenal sebagai MRA Group. MRA ini kemudian berkembang pesat dan saat ini memiliki beberapa divisi yang menaungi beberapa unit usaha seperti Zoom Bar & Lounge, BC Bar, Cafe 21, Radio Hard Rock FM (Jakarta, Bandung, Bali), i-Radio, MTV radio, Majalah Kosmo, Majalah FHM , Omni Chanel (TV), dan IP Entertaiment.
Di samping itu Adiguna juga merupakan pemilik Four Seasons Hotel dan Four Seasons Apartement di Bali. Belakangan, Adiguna baru saja membeli Reagent Hotel di Jakarta (yang sekarang berganti nama Four Seasons Hotel). Dia juga memegang dealership Ferrari dan Maserati, Mercedes Benz, Harley Davidson, Ducati, B&0, dan Bulgari. Menurut catatan George Aditjondro, Adiguna sempat memiliki hubungan bisnis dengan Tommy Soeharto di masa jayanya. Keduanya mendirikan PT Mahasarana Buana (Mabua) pada tanggal 5 September 1985. Perusahaan yang beroperasi di Batam ini berdagang dinamit untuk keperluan industri.
Adiguna yang juga anggota Persatuan Menembak dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin) ini dikenal cukup dekat juga dengan kerajaan bisnis Sudwikatmono. Seperti sohibnya, Tommy Soeharto, Adiguna juga pernah mencicipi sempitnya hotel prodeo di sel Polda Metro Jaya. Keduanya dituduh melakukan kejahatan yang nyaris persis: menembakkan timah panas hingga sang korban tewas.
Sumber : detiknews.com 3 Januari 2005
Nasib Dian Sastro Pasca Menikahi Keluarga Sutowo
Berita menikahnya Dian Sastro kemarin (18/5/2010) cukup membuat kalangan kaum Adam banyak yang “patah hati”, terutama mantan-mantan kekasih Dian sendiri tentunya. Status di jejaring sosial semacam facebook dan twitter seolah menjadi bukti, meski banyak yang sedikit malu-malu. Kemarin, status facebook teman-teman saya pun dijejali berita menikahnya Dian Sastro dan meninggalnya Mama Laurent. Baru malam tadi status berganti menjadi seputar berita gempa bumi di Sukabumi, Jawa Barat. Tidak ada hubungannya barangkali, kalau saya hubungkan tentu akan melahirkan bahan tertawaan kembali.

Memang, Dian Sastro memiliki daya tarik lebih dibanding kalangan selebritis lainnya. Selain modal wajah yang rupawan dan meng-indonesia banget, kemampuan intelektualnya juga tidak diragukan lagi. Dian juga tergolong artis berkelas, sangat selektif memilih peran, sepertinya anti-sinetron dan lebih memilih menjadi bintang iklan. Dagangan yang diiklankan pun laris manis di pasaran.
Barangkali hal-hal itulah yang membedakan Dian dengan artis-artis wanita lainnya. Sosoknya mungkin cukup menjadi idaman kaum pria.
Sebagaimana kita ketahui bersama, Dian Sastro adalah alumnus Jurusan Filsafat Universitas Indonesia.
Enam tahun dilewatinya sebagai mahasiswi. Akhirnya, aktris peraih Piala Citra itu lulus juga. Prestasinya pun cukup membanggakan untuk ukuran seorang artis yang sibuknya bukan main.
“Nilaiku 8,57 (A) dari skripsi yang berjudul Beauty Industrial Complex. Puas banget sih karena ini adalah penantian yang cukup lama. Aku bersyukur dengan banyaknya waktu yang dimiliki sehingga mendapatkan hasil maksimal. Bukan ngerjain biar cepet lulus, dapet IP yang kurang bagus. Meski 6 tahun IPK-nya 3,2,” kata Dian.
Bahkan, Dian sempat ditawari dosen pembimbingnya untuk menjadi asisten dosen (asdos) pada salah satu mata kuliah. Selain itu, skripsinya sedang disiapkan menjadi sebuah buku dimana Dian bekerjasama dengan wartawan senior Leila S. Chudori sebagai penyunting dan co-writer. Skripsi tersebut menempatkan industri kecantikan dan isu persamaan jender dalam kacamata filsafat, dimana perempuan berlaku sebagai subyek dan obyek. Lihat.
Berbicara tentang materi dalam skripsinya, bolehlah kita bertanya kepada Dian tentang “ideologi kecantikan”. Berbekal kecantikan dan ketenarannya, mungkinkah pernikahannya akan langgeng hingga akhir hayat mereka berdua, menepis anggapan miring masyarakat bahwa pernikahan artis hanyalah “paparan kekayaan dan pembuktian strata sosial” dan tidak berlangsung lama.
Jika biasanya kaum bigos (biang gosip) infotainment menanyakan ke Mama Laurent, sepeninggalnya kepada siapa lagi mereka akan bertanya? Saya rasa, hanya waktu yang mampu menjawabnya.
Kembali ke keluarga Sutowo tadi, jika melihat kadar intelektualitas dan kelas keartisannya, rasa-rasanya mereka memang lebih pintar mencari mantu dibanding konglomerat satunya yang baru saja digandeng dan digendong Pak Beye. Mudah-mudahan pengusaha-pengusaha bekas ‘penguasa’ dan sedang ‘menguasai’ jagat politik negeri ini tersebut tidak salah memilih mantu. Semoga nantinya menjadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah (samara) sehingga berguna bagi bangsa dan negaranya. Amien…..
Saking ngefansnya, dalam status facebook seorang sahabat saya, dia berencana akan menggelar diskusi dengan tema, “Indonesia Pasca Menikahnya Dian Sastrowardoyo”. Terbuka untuk umum katanya, meski judulnya untuk kalangan terbatas. Barangkali dia terinspirasi tajuk harian Kompas tentang “Ekonomi Indonesia Pasca Sri Mulyani” beberapa waktu lalu.

Meski ini postingan gosip, mudah-mudahan masih ada “sesuatu” di baliknya. Suatu indikasi bahwa kekuasaan dan perusahaan masih membentuk lingkaran setan di negeri ini, dan dunia barangkali, seperti dua sisi keping mata uang. Karena ada larangan menggosip di tempat umum, kita menggosip di rumah ini saja. Salam damai, selamat pagi!

Profil Biografi dan Biodata Komjen Sutarman Kapolri yang Baru


Nama Lengkap : Sutarman
Alias : No Alias
Profesi : -
Agama : Islam
Tempat Lahir : Sukoharjo, Jawa Tengah
Tanggal Lahir : Sabtu, 5 Oktober 1957
Zodiac : Balance
Warga Negara : Indonesia
Istri : Elly Sutarman


Komjen Pol Drs. Sutarman merupakan Kabareskrim Mabes Polri yang aktif sejak 6 Juli 2011. Dia diangkat sebagai orang nomor satu di Bareskrim untuk menggantikan Ito Sumardi Ds yang telah memasuki masa pensiun.

Sutarman tercatat pernah menduduki sejumlah jabatan penting di sepanjang karirnya. Pada tahun 2000, dia adalah Ajudan Presiden RI pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid. Kemudian pada akhir 2004, dia pernah menjabat sebagai Kapolwiltabes Surabaya, dan kemudian berturut-turut menjabat sebagai Kapolda Kepri, Kaselapa Lemdiklat Polri. Setelah menjabat sebagai Kaselapa Lemdiklat Polri, Sutarman lalu menjabat sebagai Kapolda Jawa Barat pada masa jabatan 23 Juni 2010 hingga 4 Oktober 2010. Ia menggantikan Irjen Pol Timur Pradopo.

Setelah lepas jabatan sebagai Kapolda Jawa Barat dan digantikan oleh Irjen Pol H. Suparni Parto, Sutarman kemudian menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya untuk menggantikan Komjen Pol Ito Sumardi Ds.

Pada 2011, setelah melalui proses penyaringan, jabatan Kabareskrim Mabes Polri ditentukan dan posisi penting itu akhirnya diduduki oleh Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Sutarman.

Keputusan pengangkatan Sutarman itu tertuang dalam Surat Telegram Rahasia (STR) No: STR 1334/VI/2011, tanggal 30 Juni 2011. Bersama Sutarman, ada 11 jenderal lainnya yang dimutasi.

Dalam telegram tersebut, Sutarman menggantikan posisi Komisaris Jenderal Ito Sumardi yang memasuki masa pensiun. Sementara jabatan Sutarman sebagai orang nomor satu di Polda Metro Jaya digantikan oleh Irjen Untung Suharsono Radjab. Untung sebelumnya menjabat sebagai Kapolda Jawa Timur.

Ada keunikan dalam sejarah karir Jenderal bintang tiga ini. Sutarman pernah menggantikan Timur Pradopo (yang kini adalah Kapolri) di dua tempat yang berbeda, yakni Polda Jabar dan Polda Metro Jaya.

Riset dan analisa oleh Pilar Asa Susila
PENDIDIKAN

Akademi kepolisian 1981
KARIR

Kabareskrim Mabes Polri
Kapolwiltabes Surabaya
Kapolda Kepri
Kaselapa Lemdiklat Polri
Kapolda Jabar
Kapolda Metro Jaya
Ajudan Presiden RI pemerintahan Abdurrahman Wahid
1981, Staf Lalu Lintas di Polres Bandung,
1982, Kepala Polsek Dayeuhkolot, Resor Bandung
1983, Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Sumedang, Jawa Barat
Inilah Foto Profil Esti Istri Pertama Gatot Supiartono

Inilah Foto Profil Esti Istri Pertama Gatot Supiartono

Teka-teki pembunuhan Holly Angela di Kalibata City akhirnya terungkap. Otak pembunuhan itu tidak lain adalah suami siri Holly, Gatot Supiartono. Pejabat eselon I Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) itu diketahui sudah memiliki istri sebelum menikahi Holly.

Menurut tetangga kediaman almarhum orangtua Gatot di Rawamangun, pria yang juga menjabat sebagai auditor utama BPK itu menikah dengan seorang wanita bernama Esti.

"Namanya Esti, cakep orangnya. Kecil gitu, kalau Angel (Holly) kan agak gede tuh. Tapi lebih cakep istrinya (Gatot)," ujar tetangga yang enggan disebutkan namanya saat berbincang, Kamis (17/10/2013).

"Orangnya (Esti) pakai jilbab. Alus ya namanya dari Solo ya. Putih juga, cakep dah, ayu gitu. Sopan juga," imbuhnya.

Kini rumah yang beralamat di Jl Kayu Jati Gang I No 18 RT 08/04, Rawamangun, Pulogadung, Jakarta Timur itu terlihat sepi. Saat detikcom berkunjung dan mencoba mengetuk pagar rumah, tak ada siapapun yang menjawab dari dalam rumah.

Diketahui adik Gatot yang bernama Sri kini menempati rumah itu bersama suami dan anaknya. Namun, Sri diketahui tidak berada di rumah itu sejak sebelum hari raya Idul Adha lalu.

"Bu Sri sudah pergi dari sebelum Idul Adha. Sama suami dan anaknya. Enggak tahu ke mana. Namanya hari raya ya silaturahmi atau gimana," kata tetangga itu sebelumnya.

Polisi resmi menetapkan Gatot Supiartono sebagai tersangka yang mengotaki pembunuhan istri sirinya sendiri, Holly Angela. Gatot memerintahkan 5 orang untuk melakukan pembunuhan berencana di kediaman Holly di Apartemen Kalibata City pada 30 September 2013 lalu.