• HOME

Wawancara Ir. Ciputra dalam Channel NewsAsia 2013

Selasa, 09 April 2013 - 10:03:39 WIB
artikel-bisnis Wawancara Ir. Ciputra dalam Channel NewsAsia 2013
Diposting oleh : admineciputra    - Dibaca: 1534 kali

Berbagi ilmu dengan meng-klik tombol berikut ini »

pak ci dan sujadi siswo di CNA

Dalam dialog di Channel NewsAsia Luminary Awards 2013 yang digelar tanggal 26 Maret 2013 yang lalu, saya diwawancarai oleh Sujadi Siswo, Kepala Biro Channel NewsAsia. Di depan audiens yang terdiri dari para pebisnis Asia dan dunia, saya menjawab berbagai pertanyaan mengenai berbagai hal. 
 
Sujadi Siswo (SS): “Anda sangat memelihara kesehatan. Apa rahasianya untuk tetap sehat dan bugar di usia lebih dari 80 tahun seperti sekarang?”
 
Ir. Ciputra (IC) : “Di usia saya yang ke 82 tahun ini, saya harus terus menerus memberikan perhatian pada kesehatan. Rahasianya sukar untuk dijelaskan. Kita bisa mengatur banyak hal tetapi mengatur dan memelihara kesehatan kita sendiri ialah satu hal yang lebih sulit. Bahkan bisa saya katakan menjaga kesehatan ialah salah satu yang paling sulit. Untuk menjaga kesehatan itulah, saya harus selalu mengatur makanan yang masuk ke tubuh saya. Olahraga juga menjadi ‘rahasia’ lain yang menjadikan saya tetap produktif di usia yang ke 82.
 
SS: “Banyak dari kita yang belum tahu bahwa Dr. Ir. Ciputra adalah seorang pelari yang turut berkompetisi di Pekan Olahraga Nasional. Mengagumkan. Dan bagaimana Anda sekarang tetap menjaga kesehatan dan kehidupan secara umum di tengah aktivitas sehari-hari yang padat?”
 
IC: “Dahulu saat masih remaja, saya pernah menjadi atlet lari jarak menengah. Bakat saya berlari ini terasah berkat kebiasaan saya berburu di hutan untuk mendapatkan hewan buruan.
Bagaimana saya sekarang menjalani kehidupan ialah dengan lebih fokus mengatur diri saya. Mengatur mindset diri kita sendiri juga tak kalah sulitnya. Makanan dan olahraga adalah dua faktor lain yang sangat penting.”
 
SS: “Olahraga seperti apa yang Anda lakukan setiap hari?”
 
IC: “Pengaturan itu juga berlaku untuk olah fisik saya sehari-hari. Saya berdisiplin untuk melakukan olah fisik. Olahraga saya memang tidak biasa. Saya suka berenang tetapi saya tidak melakukan renang dengan cara yang banyak dilakukan orang. Cara ini saya sebut sebagai berenang secara stasioner, yaitu kedua tangan dan kaki melakukan gerakan mengayuh yang sama. Saya kenakan tali di pinggang agar tidak tenggelam. Untuk berenang ini, saya merancang khusus sebuah kolam renang mini berukuran 3 x 4 meter yang tidak terlalu dalam dengan air yang sedikit lebih hangat dari suhu tubuh kita yaitu 32-33 derajat celcius, bukan di air dingin atau hangat.
Di samping berenang stasioner, saya juga melakukan taichi dan angkat beban atau weight lifting. Namun tentu saja angkat beban yang saya lakukan tidak seperti angkat beban yang dilakukan oleh mereka yang lebih muda. Saya hanya menggunakan dumbell seberat 2 kilogram di masing-masing tangan untuk memperkuat tangan. Itulah olahraga yang saya lakukan di pagi hari dan di sore hari saya kembali lakukan taichi dan weight lifting.”
 
SS: “Anda sudah banyak menerima penghargaan dari berbagai pihak, dan kini satu lagi dari Channel News Asia. Bagaimana menurut Anda mengenai “Lifetime Achievement Luminary Award”  ini?”
 
IC: “Saya selalu berpikir bahwa semua penghargaan ini hanya mungkin diraih dengan berkat dan karunia yang berlimpah dan tak pernah putus dari Tuhan YME.
Saya memiliki 3 televisi layar datar di ruang kerja. Ini bukan untuk menonton acara entertainment tetapi untuk membantu saya mengkonsumsi berbagai informasi dari berbagai belahan bumi. Satu televisi saya khususkan untuk menayangkan berita-berita bisnis teraktual, satu lagi untuk olahraga terutama football, dan satunya lagi untuk berita lingkungan (flora dan fauna). Dan saya juga masih membaca koran.”
 
SS: “Begitu banyak pihak yang membahas tentang Indonesia yang baru dan lebih menjanjikan begitu juga dengan segala ketidakpastiannya. Jika Anda mendirikan perusahaan baru saat ini, bukan saat dulu,  apakah Anda menempuh jalan yang berbeda dibandingkan jalan yang Anda tempuh dahulu?”
 
IC: “Ya, tentu! Karena kita harus mengembangkan diri dengan belajar dan berubah. Caranya dengan membandingkan diri saya 20-30 tahun lalu. Bagaimana saya tertarik pada penyebarluasan entrepreneurship di Indonesia sebenarnya berawal saat usia saya 70 tahun. Saat itu saya memutuskan berhenti sebagai eksekutif perusahaan dan mulai memberikan pekerjaan yang biasa ditangani eksekutif kepada mereka yang lebih muda, yaitu anak-anak saya dan pekerja profesional. Mereka yang lebih banyak melaksanakan pekerjaan sekarang. Akan tetapi satu hal masih ingin saya capai, yaitu bagaimana saya berkontribusi lebih banyak lagi kepada masyarakat luas setelah apa yang saya capai selama ini di bisnis. Saya berpendapat bahwa semua prestasi ini berasal dari Tuhan dan karena itulah saya harus ‘memberikan’ kembali sebagai bentuk rasa syukur saya kepada-Nya.
Saya bertanya saat itu, “Mengapa Indonesia begitu miskin?” Pendapatan perkapita kami masih di bawah 3800 dollar sementara negeri jiran Singapura sudah melesat 50.000 dollar. Tentu ini mendorong saya untuk belajar lebih banyak pada negeri lain yang lebih maju agar Indonesia bisa lebih baik dan sejahtera.
Saya terus bertanya, jika faktor kesuksesan itu adalah kerja keras, Indonesia juga bekerja sangat keras, tak kalah kerasnya dari bangsa lain. Begitu juga belajar, Indonesia juga belajar dan memiliki banyak akademisi dan cendekiawan. Terlebih lagi tentang sumber daya alam, kita sangat kaya dengan itu. Lalu apa yang berbeda dari Indonesia sehingga ia tidak bisa berkembang lebih cepat menjadi bangsa yang maju?
Lalu saya menemukan bahwa bangsa lain lebih piawai dalam hal entrepreneurship. Dan Indonesia masih harus belajar banyak tentang entrepreneurship . Karena itulah saya merasa harus membantu bangsa Indonesia semaksimal yang saya bisa dengan memulainya 12 tahun lalu dengan mengajarkan entrepreneurship pada masyarakat Indonesia.
Kami memiliki lebih dari 10 sekolah dan saya mengubah semuanya menjadi sekolah yang berbudaya entrepreneurship . Saat itu saya sudah berpartisipasi dalam pembinaan 2 universitas tetapi saya masih belum puas karena saya merasa bahwa saya masih harus membangun universitas saya sendiri yang fokus sepenuhnya pada pembentukan calon-calon entrepreneurship.
Untuk mewujudkan cita-cita itu, kami siapkan dana sekitar 7 juta dollar. Berdirilah Universitas Ciputra di Surabaya. Di sini kami terapkan sistem pembelajaran yang entrepreneurial dari hasil kami studi banding ke berbagai institusi pendidikan entrepreneuership . Satu hal yang menjadikannya unik ialah dari seluruh hari perkuliahan di setiap minggu, hari Rabu menjadi satu hari saat semua mahasiswa Universitas Ciputra harus mempelajari dan mempraktikkan entrepreneurship di lapangan. Tiap Rabu mahasiswa dari berbagai jurusan dikumpulkan untuk kemudian dikelompokkan menjadi grup-grup kerja kecil yang diberikan tugas membangun usaha baru  (startup) dengan mengembangkan ide-ide bisnis yang mereka miliki. Antusiasme itu meluap-luap karena mereka mempelajari entrepreneurship bukan sebagai sebuah mata kuliah di dalam kelas saja tetapi lebih banyak berkonsentrasi pada praktik lapangan, karena itulah yang dibutuhkan para calon entrepreneur: praktik sebanyak mungkin, bereksperimen sebanyak mungkin, gagal sebanyak mungkin agar dapat belajar banyak mencapai keberhasilan kelak.”
 
SS: “Anda sudah pernah diberi sebutan “Master Builder” dan kini Anda disebut juga dengan “Master Entrepreneur”, apakah pemikiran lain yang mendorong Anda untuk berbuat lebih banyak lagi untuk bangsa Indonesia?”
 
IC: “Saat saya masih berusia 12 tahun , ayah saya diculik dan dipenjara oleh tentara pendudukan Jepang. Menurut kabar ia dipenjarakan di sebuah tempat sekitar 400 km jauhnya dari desa kecil kami di Bumbulan dan hingga kini saya tidak tahu letak jasadnya. Dari sanalah, saya terpacu untuk mengatasi kemiskinan yang mendera kami sekeluarga jadi saya bercita-cita menjadi seorang arsitek. Tetapi saat saya sudah menjadi arsitek, saya sadar saya hanya menunggu pekerjaan dari orang lain dan saya ingin menciptakan pekerjaan itu bagi diri sendiri. Akhirnya saya beralih menjadi pengembang properti.
Dari sana, saya terus berpikir jika saya ingin menolong orang lain, saya harus membantu mereka menjadi entrepreneur. Cara terbaik untuk menolong orang lebih mandiri dan sejahtera ialah dengan mengajarkan entrepreneurship pada mereka. Dan saya pikir Indonesia sedang mengarah ke sana. “
Eciputra.com , Ciputraentrepreneurship.com , Ciputranews.com , Properti.net
 


'Wawancara Ir. Ciputra dalam Channel NewsAsia 2013':


Artikel Bisnis Lainnya


Jual Beli Online
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori dengan judul Wawancara Ir. Ciputra dalam Channel NewsAsia 2013. Jika kamu suka, jangan lupa like dan bagikan keteman-temanmu ya... By : Aneka Artikel Indonesia Terbaru
Ditulis oleh: Admin - Rabu, 27 November 2013

Belum ada komentar untuk " Wawancara Ir. Ciputra dalam Channel NewsAsia 2013"

Posting Komentar