• HOME

Hijrah dari Sopir Angkot Jadi Bos Sembako

Jumat, 20 April 2012 - 09:58:06 WIB
artikel-bisnis Hijrah dari Sopir Angkot Jadi Bos Sembako
Diposting oleh : d4nu    - Dibaca: 927 kali
Berbagi ilmu dengan meng-klik tombol berikut ini »

Pengalaman pahit sopir angkot telah mengangkat Romly Padmadinata menjadi seorang seorang pengusaha yang sukses. Saat itu, pria asal Bandung yang sedang mengemudikan angkot dihentikan oleh seorang anggota polisi. Karena melanggar lampu merah, sang sopir tersebut dimarahi polisi dengan cara memukul memukul pintu samping mobilnya dengan keras. Argumentasi yang diberikan oleh sopir angkot tersebut tidak bisa diterima sang polisi muda. Akhirnya bogem mentah pun melayang ke kepala sang sopir angkot.

sembakoPengalaman itu membuat Romly trauma dan kapok bekerja sebagai sopir angkot. Beberapa bulan lamanya dia sempat menganggur. Kalaupun ada pekerjaan, paling hanya pekerjaan serabutan, kadang-kadang ia menjadi calo tanah, menjadi kuli bangunan, atau apa saja yang bisa menghasilkan duit.

Terinspirasi oleh tetangganya yang sukses menjadi pedagang sembako, membuat Pak Romly berpikir untuk mengikuti jejak temannya itu. Beberapa kali ia mampir ke tempat temannya itu sambil bertanya tentang bagaimana cara temannya itu bisa sukses menjadi pedagang. Setelah merasa memiliki cukup ilmu, dengan berbekal sisa tabungan dan  ditambah hasil menjual perhiasan emas istrinya, pak Romly mencoba peruntungannya dengan membuka warung di rumahnya, dikawasan Haur Pancuh, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Selama ini jalan di depan rumahnya memang terkenal cukup padat dilalui orang yang akan bepergian kuliah, sekolah ataupun bekerja.

Mula-mula pak Romly membuat gerobak untuk membeli sayuran di pasar. Setiap dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB ia berangkat ke pasar dengan membawa gerobak. Di pasar ia membeli berbagai kebutuhan pangan masyarakat sehari-hari, seperti sayur-sayuran dan sembilan bahan pokok (sembako). Sekitar jam 05.00, Romly sudah tiba di rumahnya dan segera menggelar barang dagangannya. Istrinyalah yang bertugas giliran menjajakan barang dagangan di warungnya yang tidak begitu luas, sementara dirinya istirahat dan tidur pulas. Ia dan istrinya memang begitu kompak.

Romly dan istrinya pedagang yang cerdas. Walau pendidikannya hanya tamatan SMP dan istrinya tamat SD, namun dalam urusan usaha, mereka cukup kreatif. Mereka selalu mempelajari keinginan konsumen dan mau mendengar keluhan mereka. Di samping itu, mereka juga tahu bagaimana menghadapi persaingan usaha dengan tetangganya yang sudah lebih dulu membuka usaha. Dalam urusan harga, mereka memang tidak mematok harga tinggi, yang penting banyak pelanggannya. Mereka juga selalu ramah dan sering bercanda dengan konsumennya, sehingga diantara mereka terjadi keakraban dan hubungan emosional.

Apa yang dilakukan Romly dan istrinya ternyata manjur. Beberapa pedagang yang ada di sekitarnya berangsur-angsur tutup karena tidak kuat bersaing dengannya. Hampir semua pelanggan warung lain berpindah ke warungnya. Apalagi setiap tahun, misalnya menjelang lebaran, Romly dan istrinya kerap kali memberi bingkisan lebaran kepada pelanggan-pelanggan setianya berupa paket sembako, yang membuat para pelanggan semakin lengket dan jatuh hati kepada mereka.

Ternyata apa yang dilakukannya tidak jauh berbeda dengan para pedagang lainnya. Namun, untuk strategi, mungkin ia lebih unggul, karena ia begitu jeli melihat pasar dan mau terus-menerus belajar. Untuk barang-barang tertentu yang modalnya kecil, sengaja ia tidak mengambil untung, bahkan kadang-kadang sengaja ia jual modal saja, hanya sebagai penglaris. Padahal Romly tahu, tidak semua barang dagangannya murah. Ada juga barang-barang tertentu yang tidak dijual di tempat saingannnya dia jual dengan harga sedikit lebih mahal, namun pelanggan tetap saja membelinya, sebab sudah terbentuk image dibenak pelanggannya bahwa warung dagangan Romly lebih murah dari tempat lainnya.

Perputaran usaha Romly dari tahun ke tahun kian berkembang. Istrinya yang bertindak sebagai bendahara sangat pandai menyimpan uang. Setiap hari selalu ia sisihkan uang untuk disimpannya. Uang tersebut katanya uang dingin yang akan digunakan sewaktu-waktu jika ada keperluan yang mendesak atau untuk investasi tambahan. Kalau uang sudah terkumpul cukup banyak, kembali ia berinvestasi, misalnya dengan membeli sebuah rumah butut dengan harga murah. Kemudian rumah tersebut direnovasi dan dijadikan tempat kos-kosan mahasiswa yang memang banyak tinggal di daerah tersebut.

Kini pak Romly dan keluarganya hidup berkecukupan dari usaha mereka. Kiat sukses mereka adalah tekun, pandai-pandai mengatur keuangan, jangan besar pasak dari pada tiang. Dia selalu berpesan agar jangan simpan uang di bank hanya untuk berinvestasi, tapi hanya demi keamanan dan kemudahan saja. Ia mengajurkan agar sebaiknya uang di putar saja dalam bentuk berbagai usaha yang menguntungkan, sehingga setiap uang hasil keuntungan akan beranak pinak menciptakan uang lagi. Ini disebutnya sebagai peternakan uang. (*/Bisnis)
'Hijrah dari Sopir Angkot Jadi Bos Sembako ':

Artikel Bisnis Lainnya

Jual Beli Online
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori dengan judul Hijrah dari Sopir Angkot Jadi Bos Sembako . Jika kamu suka, jangan lupa like dan bagikan keteman-temanmu ya... By : Aneka Artikel Indonesia Terbaru
Ditulis oleh: Admin - Senin, 23 September 2013

Belum ada komentar untuk "Hijrah dari Sopir Angkot Jadi Bos Sembako "

Posting Komentar