Selasa, 09 Juli 2013 - 09:21:44 WIB
Tas Rumput Ketak Tembus Pasar Jepang dan Amerika
Diposting oleh : admineciputra - Dibaca: 469 kali
Rumput liar di hutan Lombok dan Sumbawa memberi jawaban bagi warga yang ingin meningkatkan kesejahteraan. Rumput diolah menjadi nampan, tatakan piring, keranjang, tempat perhiasan, hingga tas-tas yang memenuhi selera mode perempuan masa kini.
Kuat seperti rotan dan tahan terhadap rayap membuat kerajinan dari rumput yang disebut ketak ini memiliki keunikan. Tidak heran, jika kerajinan ketak pernah mendapat anugerah dari organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNESCO Award, saat Trade Expo di Jakarta tahun 2010.
Mawar Yanti awalnya hanya membantu usaha kakaknya, Seni, yang sudah lebih dulu membuat kerajinan dari rumput ketak. Pada tahun 1999, ia merintis usaha kerajinan rumput ketak bersama sang suami, Suhartono, dan diberi nama Mawar Art Shop.
”Kebiasaan membuat kerajinan dari rumput ketak sudah ada sejak lama ada di daerah ini,” kata Mawar seperti dilansir Kompas.com.
Ia melihat perajin setempat di Dusun Nyurbaya Gawah, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, rajin berproduksi, tetapi abai dalam pemasaran dan produksi. Mereka sekadar menunggu pembeli singgah di art shop atau pasar seni.
Art shop di kampung ini merupakan ruang pajang yang ditempatkan di depan rumahmasing-masing. Saat serangan Bom Bali tahun 2002, toko kerajinan di kampung itu berguguran karena kehilangan pembeli. Toko kerajinan milik Mawar dan kakaknya mampu bertahan karena tidak sekadar menunggu, melainkan menjemput pembeli.
Caranya, mereka rajin mengikuti pameran ke berbagai daerah bersama dinas terkait atau bank pemberi kredit yang memberi stan pameran cuma-cuma. Melalui pameran ini, selain menangguk penghasilan dari penjualan eceran, ia juga mendapat pembeli partai besar, termasuk eksportir.
Sejak dua tahun lalu, tas-tasnya sudah mulai diekspor ke Jepang sebanyak 3.000 buah per tiga bulan. Beberapa pemilik toko kerajinan dari Amerika Serikat, Kanada, dan Australia, juga secara rutin datang dan membeli tasnya.
Upayanya jemput bola membuat usahanya bertahan. Dari 12 toko kerajinan yang pernah ada, kini hanya tinggal milik Mawar dan kakaknya. Pemilik toko kerajinan lainnya sebagian tetap berproduksi, tetapi tidak lagi buka. Mereka memilih menyetor hasil produksinya ke toko kerajinan Mawar atau ke pengepul di Bali. ”Dengan jemput bola, justru lama-lama tamu yang mencari art shop kami di kampung,” kata Mawar.
Sebanyak 75 persen produksinya berupa tas perempuan aneka bentuk, yang dipadu dengan kain tenun atau batik. Sisanya berupa alas piring, nampan, tempat buah, tempat tisu, dan perlengkapan rumah tangga lain.
Beberapa kali produknya diikutkan pada pameran di Tokyo Gift Show dan Seoul Gift Show. Pihaknya juga mendapat pendampingan peningkatan kualitas desain dari Japan External Trade Organization (Jetro) dan dipertemukan dengan pembeli. Selain pernah menerima UNESCO Award, produk Mawar Art Shop juga pernah mendapat Inacraft Award.
Produksi kerajinan ini melibatkan ribuan orang, sebagian besar perempuan. Sebanyak 30 perempuan bekerja di bengkel kerja Mawar. Mereka adalah istri-istri yang ditinggal suaminya bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Sebagian besar pekerja lainnya membawa pulang bahan baku dan dikerjakan di rumah dengan upah borongan, di bawah koordinasi 10-15 orang.
Upahnya bervariasi, bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan pengerjaan. Misalnya, untuk tas tangan berbentuk keranjang kecil yang dikerjakan 3-4 hari diganjar upah Rp 100.000-Rp 150.000 per buah. Kebanyakan mengerjakannya sebagai sampingan setelah selesai memasak dan bebersih rumah atau bekerja di sawah.
”Banyak dari ’janda-janda Malaysia’ ini, istilah kami untuk istri yang ditinggal suaminya menjadi TKI di Malaysia, hanya mendapat kiriman uang enam bulan sekali. Tentu susah sekali mengatur keuangan keluarga dengan kondisi seperti itu. Dengan membuat kerajinan ketak, mereka bisa mendapat tambahan penghasilan,” kata Mawar. Produksi tas rumput Mawar setiap bulannya mencapai 1.500 buah per bulan dengan harga jual Rp 150.000-Rp 1,5 juta per buah. Semakin rapat anyaman rumput, harga barang jadinya semakin mahal karena semakin lama dan sulit pengerjaannya.
Cara mengolah rumput ketak, rumput yang sebenarnya termasuk jenis pakis ini, dibelah lantas dikeluarkan intinya lalu diserut sesuai ukuran yang diinginkan. Setelah kering baru dianyam menjadi barang kerajinan . Baik bagian luar maupun inti rumput dapat dianyam. Peralatan yang digunakan sederhana, yakni pisau dapur, pisau serut, dan kulit bekas baterai untuk menyeragamkan ukuran rumput. (as)
Eciputra.com, Ciputraentrepreneurship.com , Ciputranews.com , Properti.net
Diposting oleh : admineciputra - Dibaca: 469 kali
Kuat seperti rotan dan tahan terhadap rayap membuat kerajinan dari rumput yang disebut ketak ini memiliki keunikan. Tidak heran, jika kerajinan ketak pernah mendapat anugerah dari organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNESCO Award, saat Trade Expo di Jakarta tahun 2010.
Mawar Yanti awalnya hanya membantu usaha kakaknya, Seni, yang sudah lebih dulu membuat kerajinan dari rumput ketak. Pada tahun 1999, ia merintis usaha kerajinan rumput ketak bersama sang suami, Suhartono, dan diberi nama Mawar Art Shop.
”Kebiasaan membuat kerajinan dari rumput ketak sudah ada sejak lama ada di daerah ini,” kata Mawar seperti dilansir Kompas.com.
Ia melihat perajin setempat di Dusun Nyurbaya Gawah, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, rajin berproduksi, tetapi abai dalam pemasaran dan produksi. Mereka sekadar menunggu pembeli singgah di art shop atau pasar seni.
Art shop di kampung ini merupakan ruang pajang yang ditempatkan di depan rumahmasing-masing. Saat serangan Bom Bali tahun 2002, toko kerajinan di kampung itu berguguran karena kehilangan pembeli. Toko kerajinan milik Mawar dan kakaknya mampu bertahan karena tidak sekadar menunggu, melainkan menjemput pembeli.
Caranya, mereka rajin mengikuti pameran ke berbagai daerah bersama dinas terkait atau bank pemberi kredit yang memberi stan pameran cuma-cuma. Melalui pameran ini, selain menangguk penghasilan dari penjualan eceran, ia juga mendapat pembeli partai besar, termasuk eksportir.
Sejak dua tahun lalu, tas-tasnya sudah mulai diekspor ke Jepang sebanyak 3.000 buah per tiga bulan. Beberapa pemilik toko kerajinan dari Amerika Serikat, Kanada, dan Australia, juga secara rutin datang dan membeli tasnya.
Upayanya jemput bola membuat usahanya bertahan. Dari 12 toko kerajinan yang pernah ada, kini hanya tinggal milik Mawar dan kakaknya. Pemilik toko kerajinan lainnya sebagian tetap berproduksi, tetapi tidak lagi buka. Mereka memilih menyetor hasil produksinya ke toko kerajinan Mawar atau ke pengepul di Bali. ”Dengan jemput bola, justru lama-lama tamu yang mencari art shop kami di kampung,” kata Mawar.
Sebanyak 75 persen produksinya berupa tas perempuan aneka bentuk, yang dipadu dengan kain tenun atau batik. Sisanya berupa alas piring, nampan, tempat buah, tempat tisu, dan perlengkapan rumah tangga lain.
Beberapa kali produknya diikutkan pada pameran di Tokyo Gift Show dan Seoul Gift Show. Pihaknya juga mendapat pendampingan peningkatan kualitas desain dari Japan External Trade Organization (Jetro) dan dipertemukan dengan pembeli. Selain pernah menerima UNESCO Award, produk Mawar Art Shop juga pernah mendapat Inacraft Award.
Produksi kerajinan ini melibatkan ribuan orang, sebagian besar perempuan. Sebanyak 30 perempuan bekerja di bengkel kerja Mawar. Mereka adalah istri-istri yang ditinggal suaminya bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Sebagian besar pekerja lainnya membawa pulang bahan baku dan dikerjakan di rumah dengan upah borongan, di bawah koordinasi 10-15 orang.
Upahnya bervariasi, bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan pengerjaan. Misalnya, untuk tas tangan berbentuk keranjang kecil yang dikerjakan 3-4 hari diganjar upah Rp 100.000-Rp 150.000 per buah. Kebanyakan mengerjakannya sebagai sampingan setelah selesai memasak dan bebersih rumah atau bekerja di sawah.
”Banyak dari ’janda-janda Malaysia’ ini, istilah kami untuk istri yang ditinggal suaminya menjadi TKI di Malaysia, hanya mendapat kiriman uang enam bulan sekali. Tentu susah sekali mengatur keuangan keluarga dengan kondisi seperti itu. Dengan membuat kerajinan ketak, mereka bisa mendapat tambahan penghasilan,” kata Mawar. Produksi tas rumput Mawar setiap bulannya mencapai 1.500 buah per bulan dengan harga jual Rp 150.000-Rp 1,5 juta per buah. Semakin rapat anyaman rumput, harga barang jadinya semakin mahal karena semakin lama dan sulit pengerjaannya.
Cara mengolah rumput ketak, rumput yang sebenarnya termasuk jenis pakis ini, dibelah lantas dikeluarkan intinya lalu diserut sesuai ukuran yang diinginkan. Setelah kering baru dianyam menjadi barang kerajinan . Baik bagian luar maupun inti rumput dapat dianyam. Peralatan yang digunakan sederhana, yakni pisau dapur, pisau serut, dan kulit bekas baterai untuk menyeragamkan ukuran rumput. (as)
Eciputra.com, Ciputraentrepreneurship.com , Ciputranews.com , Properti.net
'Tas Rumput Ketak Tembus Pasar Jepang dan Amerika ':
Artikel Bisnis Lainnya
- Inilah Beberapa Kebiasaan Buruk untuk Keuangan Ide Bisnis Belum akhir bulan, uang Anda sudah menipis? Mungkin Anda bingung mengapa uang Anda tidak cupuk padahal pendapatan Anda seharusnya mencukupi semua kebutuhan. Mungkin, Anda melakukan kebiasaan buruk yang memengaruhi kondisi keuangan Anda. Kejadian di ... Artikel Bisnis - Jual Beli Online - Toko Online - Iklan Gratis
- Anggaran Promosi Minim, Gunakan Media Sosial Saja Bisnis Komunitas Forum & Blog Popularitas dunia internet, khususnya media sosial tidak dapat diragukan lagi. Selain Facebook, Twitter saat ini jadi media sosial yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Tentunya, kondisi ini akan memberi angin segar untuk ... Artikel Bisnis - Jual Beli Online - Toko Online - Iklan Gratis
- Telunjuk Disuntik Dana Investor Jepang Ciputraentrepreneurship News, Jakarta - Seperti dikabarkan oleh Hanindia N. Rahiesa sang pendiri pada Ciputraentrepreneurship.com, hari ini (17/6/2013) menjadi saksi tonggak baru dalam manajemen Telunjuk, startup layanan pencarian untuk belanja (shopping ... Artikel Bisnis - Jual Beli Online - Toko Online - Iklan Gratis
- Perhatikan Hal Ini Saat Akan Menjual Rumah Banyak orang yang merasa pusing saat akan menjual rumah . Tentunya dibutuhkan pemikiran dan perencanaan yang matang, untuk menjadikan rumah yang akan dijual bakal memikat calon pembeli Meski begitu, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan sebelum benar-benar memutuskan untuk ... Artikel Bisnis - Jual Beli Online - Toko Online - Iklan Gratis
- Gunung Subur, Penghasil Teh Berkualitas Bagi Anda pecinta teh , tentu tak asing dengan merek Gardoe atau Kepala Djenggot. Kedua merek teh tersebut merupakan produk dari PT Gunung Subur yang telah berdiri sejak tahun 1950. Perusahaan ini termasuk usaha padat karya dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 700 orang, untuk ... Artikel Bisnis - Jual Beli Online - Toko Online - Iklan Gratis
Jual Beli Online
Rating:
100%
based on 99998 ratings.
5 user reviews.
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori dengan judul Tas Rumput Ketak Tembus Pasar Jepang dan Amerika . Jika kamu suka, jangan lupa like dan bagikan keteman-temanmu ya... By : Aneka Artikel Indonesia Terbaru
Artikel Menarik Lainnya :
Ditulis oleh:
Admin - Selasa, 05 November 2013

Belum ada komentar untuk " Tas Rumput Ketak Tembus Pasar Jepang dan Amerika "
Posting Komentar