Selasa, 28 Mei 2013 - 10:15:33 WIB
Li Ka-Shing, Raja Bisnis dari Hongkong
Diposting oleh : admineciputra - Dibaca: 1136 kali
Diposting oleh : admineciputra - Dibaca: 1136 kali
Li Ka-Shing termasuk salah satu orang terkaya di dunia dengan harta senilai 32 miliar dolar AS. Tidak terbantahkan lagi, kekayaannya tersebut menahbiskan Li sebagai orang paling kaya di Hong Kong. Dialah raja di antara sekitar 40 konglomerat di kota bekas koloni Inggris itu.
Forbes melaporkan, membumbungnya harga-harga propertidan kedekatan dengan ekonomi China menjadi beberapa faktor penyebab mengapa banyak penduduk Hong Kong semakin kaya. Tidak heran jika melihat mobil-mobil mewah semacam Rolls Royce dan Porsche hilir mudik di jalanan Hong Kong.
Penobatan Forbes menjadi sebuah bukti betapa CEO Cheung Kong Holdings dan perusahaan telepon genggam Hutchison Whampoa itu adalah perunding andal dalam transaksi bisnis. Betapa tidak, dengan nalar bisnis Li, Hutchison sukses menyuntikkan saham ke perusahaan telekomunikasi Vodafone dengan muatan dana segar senilai 11 miliar dolar AS. Hal inilah yang membuat Li sukses mengalahkan konglomerat-konglomerat Hong Kong lainnya.
Sebagai orang terkaya, sudah pasti pengaruh Li begitu mengakar di Hong Kong. Li mengaku tidak terbiasa menghabiskan waktu seharian tanpa memperkaya keluarganya yang kini menjalankan perusahaan properti , energi, telekomunikasi, dan bisnis ritel .
Atribut konglomerat yang disandang Li merupakan buah manis dari jerih payahnya. Kesuksesan pengusaha yang meninggalkan China pada 1940 ini bermula dari kepiawaiannya membangun bisnis hiasan bunga plastik menjadi sebuah kerajaan bisnis global, dengan diversifikasi anak perusahaan yang beragam.
Li mengaku, kesuksesannya terletak pada keyakinan yang kuat terhadap sinergitas dan kerja sama."Idealitas masyarakat hanya dapat diperoleh jika setiap anggotanya siap dan mau mengemban tugas masing-masing," katanya suatu saat.
Cheung Kong Limited merupakan gerbong utama Cheung Kong Group yang memiliki operasi bisnis di 55 negara di dunia dan mempekerjakan sekitar 260 ribu staf personalia. Di Hong Kong, grup tersebut mempunyai delapan perusahaan yang terdaftar dengan kapitalisasi pasar gabungan.
Li dilahirkan pada 1928 di Chiu Chow, sebuah kota pantai di sebelah tenggara China.Pada 1940, dia menyeberang ke Hong Kong bersama seluruh keluarganya untuk menjauhi risiko perang. Ayahnya menderita tuberkulosis dan meninggal dunia di Hong Kong.
Sepeninggal ayahnya, tanggung jawab ekonomi dan mata pencaharian keluarga terbebani di pundaknya. Seperti dikutip dari Seputar Indonesia,keinginan kuat untuk menghidupi ibu dan adik-adiknya membuat Li nekat meninggalkan sekolah pada usia 15 tahun demi bekerja. Li berhasil mendapatkan pekerjaan di perusahaan perdagangan plastik tempat dia bekerja selama 16 jam per hari. Berkat kerja keras, ketangguhan mental, dan semangat tinggi, pada 1950 Li memberanikan diri mendirikan perusahaan sendiri dengan bendera Cheung Kong Industries.
Modal untuk mendirikan perusahaan didapatkan Li dengan meminjam dari keluarga dan kerabat. Dari pabrik plastik inilah, sayap bisnis Li semakin berkembang, dengan mendirikan anak perusahaan yang bergerak di bidang investasi real estat.
Perusahaannya berhasil tercatat di Hong Kong Stock Exchange pada 1972. Semakin berkibarnya imperium bisnis Cheung Kong membuat Li percaya diri mengakuisisi Hutchison Whampoa pada 1975 dan Hongkong Electric Holdings Limited pada 1985.
Sekarang, bisnis Cheung Kong Group telah merambah berbagai area,di antaranya pengembangan properti dan investasi, agen dan manajemen real estate, perhotelan, telekomunikasi dan e-commerce,keuangan, ritel, kegiatan pelabuhan, energi, proyek infrastruktur dan bahan bangunan, media dan bioteknologi. Seperti kebanyakan pengusaha lainnya yang memiliki kesadaran sosial tinggi, Li juga tidak ingin kesuksesannya dinikmati sendirian.
Pada 2002, Universitas Manajemen Singapura mengabadikan perpustakaannya dengan nama Perpustakaan Li Ka Shing setelah ayah Richard Li itu mendonasikan dana sebesar 11,5 juta dolar AS untuk pengembangan pendidikan tinggi. Pada 9 Maret 2007 lalu, Li menyisihkan uangnya sebesar 100 juta dolar Singapura, untuk kemudian diberikan kepada Lee Kuan Yew School of Public Policy di Universitas Nasional Singapura.
Penobatan Forbes menjadi sebuah bukti betapa CEO Cheung Kong Holdings dan perusahaan telepon genggam Hutchison Whampoa itu adalah perunding andal dalam transaksi bisnis. Betapa tidak, dengan nalar bisnis Li, Hutchison sukses menyuntikkan saham ke perusahaan telekomunikasi Vodafone dengan muatan dana segar senilai 11 miliar dolar AS. Hal inilah yang membuat Li sukses mengalahkan konglomerat-konglomerat Hong Kong lainnya.
Sebagai orang terkaya, sudah pasti pengaruh Li begitu mengakar di Hong Kong. Li mengaku tidak terbiasa menghabiskan waktu seharian tanpa memperkaya keluarganya yang kini menjalankan perusahaan properti , energi, telekomunikasi, dan bisnis ritel .
Atribut konglomerat yang disandang Li merupakan buah manis dari jerih payahnya. Kesuksesan pengusaha yang meninggalkan China pada 1940 ini bermula dari kepiawaiannya membangun bisnis hiasan bunga plastik menjadi sebuah kerajaan bisnis global, dengan diversifikasi anak perusahaan yang beragam.
Li mengaku, kesuksesannya terletak pada keyakinan yang kuat terhadap sinergitas dan kerja sama."Idealitas masyarakat hanya dapat diperoleh jika setiap anggotanya siap dan mau mengemban tugas masing-masing," katanya suatu saat.
Cheung Kong Limited merupakan gerbong utama Cheung Kong Group yang memiliki operasi bisnis di 55 negara di dunia dan mempekerjakan sekitar 260 ribu staf personalia. Di Hong Kong, grup tersebut mempunyai delapan perusahaan yang terdaftar dengan kapitalisasi pasar gabungan.
Li dilahirkan pada 1928 di Chiu Chow, sebuah kota pantai di sebelah tenggara China.Pada 1940, dia menyeberang ke Hong Kong bersama seluruh keluarganya untuk menjauhi risiko perang. Ayahnya menderita tuberkulosis dan meninggal dunia di Hong Kong.
Sepeninggal ayahnya, tanggung jawab ekonomi dan mata pencaharian keluarga terbebani di pundaknya. Seperti dikutip dari Seputar Indonesia,keinginan kuat untuk menghidupi ibu dan adik-adiknya membuat Li nekat meninggalkan sekolah pada usia 15 tahun demi bekerja. Li berhasil mendapatkan pekerjaan di perusahaan perdagangan plastik tempat dia bekerja selama 16 jam per hari. Berkat kerja keras, ketangguhan mental, dan semangat tinggi, pada 1950 Li memberanikan diri mendirikan perusahaan sendiri dengan bendera Cheung Kong Industries.
Modal untuk mendirikan perusahaan didapatkan Li dengan meminjam dari keluarga dan kerabat. Dari pabrik plastik inilah, sayap bisnis Li semakin berkembang, dengan mendirikan anak perusahaan yang bergerak di bidang investasi real estat.
Perusahaannya berhasil tercatat di Hong Kong Stock Exchange pada 1972. Semakin berkibarnya imperium bisnis Cheung Kong membuat Li percaya diri mengakuisisi Hutchison Whampoa pada 1975 dan Hongkong Electric Holdings Limited pada 1985.
Sekarang, bisnis Cheung Kong Group telah merambah berbagai area,di antaranya pengembangan properti dan investasi, agen dan manajemen real estate, perhotelan, telekomunikasi dan e-commerce,keuangan, ritel, kegiatan pelabuhan, energi, proyek infrastruktur dan bahan bangunan, media dan bioteknologi. Seperti kebanyakan pengusaha lainnya yang memiliki kesadaran sosial tinggi, Li juga tidak ingin kesuksesannya dinikmati sendirian.
Pada 2002, Universitas Manajemen Singapura mengabadikan perpustakaannya dengan nama Perpustakaan Li Ka Shing setelah ayah Richard Li itu mendonasikan dana sebesar 11,5 juta dolar AS untuk pengembangan pendidikan tinggi. Pada 9 Maret 2007 lalu, Li menyisihkan uangnya sebesar 100 juta dolar Singapura, untuk kemudian diberikan kepada Lee Kuan Yew School of Public Policy di Universitas Nasional Singapura.
'Li Ka-Shing, Raja Bisnis dari Hongkong ':
Artikel Bisnis Lainnya
- Amati Konsumen, Baru BertanyaTips Wirausaha Setiap perusahaan pasti ingin mengetahui pengaruh apa saja yang berada dalam benak konsumen. Maka dari itu, mereka harus bertanya pada mereka secara langsung. Jangan terburu-buru. Ada masalah utama yang harus Anda pecahkan ... Ide Bisnis - Jual Beli Online - Toko Online - Iklan Gratis
- Sejarah Samsung: Dari Bisnis Sayur dan Ikan Jadi Brand Paling Inovatif Bisnis Alat Elektronik Lee Byung-Chull mendirikan Samsung di Korsel di tahun 1938. Ia memulai bisnis tersebut dengan mengekspor sayur mayur, buah-buahan dan ikan kering di ibukota Korsel, Seoul. Tahun 1950, saat kaum ... Ide Bisnis - Jual Beli Online - Toko Online - Iklan Gratis
- Tips Menyusun Rencana Keuangan Bulanan Tips Wirausaha Bagi Anda yang menerima gaji pada tanggal 25 atau tanggal lain, notifikasi sms banking dengan pemberitahuan bahwa gaji telah parkir dengan manis dalam rekening mungkin sudah sangat dinanti-nanti. Tak heran pula pada tanggal-tanggal ini, orang-orang berbaris ... Ide Bisnis - Jual Beli Online - Toko Online - Iklan Gratis
- Ilham Bintang, Si Raja Bisnis Infotainment Kesuksesan mengemas acara infotainment, yang kini menjadi paket usaha di dunia hiburan televisi berhasil melambungkan namanya. Ia adalah Ilham Bintang (50), yang kini dikenal sebagai raja infotainment di Indonesia dan saat ini memiliki 15 slot acara usaha hiburan televisi di ... Ide Bisnis - Jual Beli Online - Toko Online - Iklan Gratis
- 4 Langkah Menyampaikan Berita Buruk pada Klien Tips Wirausaha Tidak seorang pun ingin menjadi pembawa berita buruk. Namun, mendiamkan sebuah masalah dan tidak menyampaikannya pada pihak yang berkepentingan dan membiarkannya makin parah hanya akan membuat kondisi makin memburuk. Terutama jika Anda memiliki klien setia, ... Ide Bisnis - Jual Beli Online - Toko Online - Iklan Gratis
Jual Beli Online
Rating:
100%
based on 99998 ratings.
5 user reviews.
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori dengan judul Li Ka-Shing, Raja Bisnis dari Hongkong . Jika kamu suka, jangan lupa like dan bagikan keteman-temanmu ya... By : Aneka Artikel Indonesia Terbaru
Artikel Menarik Lainnya :
Ditulis oleh:
Admin - Senin, 22 Juli 2013

Belum ada komentar untuk " Li Ka-Shing, Raja Bisnis dari Hongkong "
Posting Komentar